Lake Taiping PERAK

SELAMAT DATANG


Selamat Datang Ke Laman Blog Kami....Semoga Kita Semua Gembira Dan Bersyukur Dengan Pemberian Nikmat Kehidupan Ini Oleh ALLAH S.W.T,Disamping Aktiviti Seharian Kita Dengan Tidak Melalaikan Segala PerintahNYA..... ***LUAHAN THEOSUFI*** MAKLUMAN ADALAH DIBENARKAN UNTUK MENYALIN, MENCETAK ATAU MENYEBARKAN SEBARANG TULISAN DARIPADA BLOG INI (MALAH DI ALU- ALUKAN ).. SEBARKANLAH ILMU ALLAH INI UNTUK MANFAAT SELURUH UMMAH. JIKA TERDAPAT SEBARANG PEMBETULAN BOLEHLAH MENGHUBUNGI PENULIS MELALUI E- MAIL: washiyat@gmail.com TIADA HAK CIPTA TERPELIHARA-

Khamis, 1 September 2016

Aqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah

Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Maha
Penyayang.

Semoga Allah mencurahkan rahmat dan penghormatan
kepada pemimpin kita Muhammad saw, para keluarga, dan
sahabatnya. Hamba Allah swt, yaitu Muhammad ibn Umar Ibn
Ibrahim, yang berasal dari wilayah Telemsan-semoga Allah
memberikan rahmat dan anugerah kepadanya- berkata : Segala
puji bagi Allah yang Maha tunggal, yang wajib tunggal-Nya, baik
zat, sifat, maupun seluruh perbuatan-Nya, yang dibersihkan dari
pertemanan, penyerupaan, perlawanan, dan perumpamaan.
Semoga Allah mencurahkan rahmat kepada tuan dan pemimpin
kita Muhammad swt, sebagai pemimpin para nabi dan utusan,
juga kepada para keluarga dan sahabat, sebagai keluarga dan
sahabat yang paling mulia, dengan rahmat dan keselamatan yang
langgeng, sebagaimana langgengnya Tuhan (Allah) Yang Maha
Mulia dan Maha Agung.

Sebagian orang yang merasa senang dengan saya -semoga
Allah menghidupkan hatiku dan hatinya dengan cahaya keyakinan
dan menjadikanku dan mereka bagian dari ulama yang ikhlas
beramal- memohon agar saya menyusun untuk mereka sebuah
penjelasan (syarh), yang ringkas, bermanfaat, dan yang dapat
membantunya dan orang yang baru belajar untuk memahami
aqidah-aqidah guru, imam, pejuang syari‟at Islam yang zuhud,
ahli ibadah, saleh, hati-hati dalam mengarungi hidup, yang
banyak memberikan nasihat, yang banyak pengetahuannya, yang
banyak membuka jalan kebenaran, yang menggabungkan syari‟at
dan hakikat, dan sebagai pemimpin kita, yaitu Ibrahim Abdullah
Muhammad Ibn Yusuf, yang berasal dari wilayah Sanusi, semoga
Allah merahmati dan meridhainya, serta semoga Allah
memberikan kemanfaatan pada ilmunya.

Saya penuhi permintaan mereka dengan menyuguhkan
syarh (panjelasan) ini. semoga syarh ini menjadi media dalam
rangka menuju Allah swt. Semoga Allah swt. memberikan manfaat
kepada Syaeikh Yusuf dan orang-orang yang atas kehendak Allah
swt. mencintai beliau.

Semoga dengan syarh ini, Allah menjadikan
kita orang yang ikhlas karena Allah yang Maha Mulia. Semoga
dengan ilmu ini juga, Allah memberikan manfaat kepada orang
yang senang terhadap isi syarh ini, pada hari di mana anak dan
harta tidak lagi bermanfaat, kecuali orang yang Allah anugerahi
hati yang mulus.

Dengan keagungan pemimpin dan tuan kita
Muhammad saw., semoga rahmat dan keselamatan yang
sempurna tercurahkan kepada beliau, tidak ada daya dan upaya
kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Tinggi dan Maha
Agung.

Pernyataan penyusun -semoga Allah merahmatinya- :
“Segala puji bagi Allah yang mengurus alam, juga rahmat serta
salam semoga tercurahkan kepada utusan-Nya”.

Maksudnya adalah: bahwa segala puji dengan segala kesempurnaannya milik
Allah, baik berupa pujian qodim (azali) atau hadits (baru), karena
qodim adalah bagian dari sifat-Nya, sedangkan hadits bagian dari
perbuatan-Nya, semuanya adalah milik Allah, karena pada
hakikatnya, tidak ada yang memiliki pujian selain Allah. Allah
sama sekali tidak beranak dan tidak ada Tuhan lain yang
menyertai-Nya.

Oleh karena itu, pujian terbagi ke dalam empat
bagian, dua bagian berupa pujian qodim dan dua bagian lagi
berupa pujian hadits.

1) Pujian Allah kepada diri-Nya, dengan perkataan qodim-nya, seperti firman-Nya (dalam Al-Qur‟an) :
“Segala puji bagi Allah yang mengurus alam” dan firman-Nya
“Allah adalah sebaik-baiknya penguasa dan penolong”.

2) Pujian Allah kepada orang yang dikehendaki-Nya, dengan perkataan
qodim-Nya, seperti firman-Nya (Al-Qur‟an): “Sebaik-baiknya
hamba, yaitu yang banyak kembali kepada-Nya”.

3) Pujian kita kepada Allah.

4) Pujian yang hadits (makhluk) kepada yang hadits (makhluk).

Kemudian puji berlaku pada saat mendapat kenikmatan,
atau aat menerima sesuatu yang tidak menyenangkan (bencana),
berbeda dengan syukur yang hanya berlaku pada nikmat, karena
puji yang keluar dari yang baru (makhluk) hanya diungkapkan
oleh lidah, sedangkan syukur bisa diungkapkan dengan lidah, hati,
dan sebagainya. Ada pujian yang hukumnya wajib diucapkan
sekali dalam seumur hidup, seperti mengucapkan dua kalimat
Syahadat. Taufiq hanya dari Allah.

Pernyataan penyusun : “Allah”. Maksudnya kata Allah itu
sebuah nama yang menghimpun zat, semua sifat, dan perbuatan
Allah. Oleh karena itu, kata Allah ini disebut sebagai rajanya
nama, ada pendapat yang mengatakan kata Allah ini diambil dari
kata “Tawallaha/bingung” karena hati-hati manusia
bingung/kagum dengan kebesaran dan keagungan-Nya.

Kata “Tawallaha” dalam bahasa Arab sama dengan “Tahayyara” yang
merupakan bagian dari nama-nama penyucian dari segala sesuatu
yang dapat meliputi-Nya, artinya yang Maha Tinggi. Kata “al-
„aliyu” ini diambil dari perkataan orang Arab “ Lāhata al-syamsu”
(Matahari telah terbit), yaitu ketika matahari naik dan menjadi
tinggi, juga merupakan bagian dari nama-nama penyucian, karena
sifat tinggi bagi Allah berbeda dengan sifat tinggi bagi makhluk,
bukan tinggi karena tempat.

Makna allazi lā yatagayyaru wa layatabaddalu (tidak mengalami perubahan dan tidak mengalami
pergantian), diambil dari perkataan bangsa Arab : “Allaha fulanun
„ala hālihī” seseorang bertahan pada keadaannya” artinya dia
istiqamah dengan kondisinya sekarang. Oleh karena itu, kata
Allah merupakan bagian dari nama-nama penyucian dari
pergantian dan perubahan.

Adapun kata “şalat” artinya rahmat. Rahmat adalah
nikmat dan keselamatan adalah rasa aman bukanlah sesuatu yang
dituntut dari Allah swt. asal kata rahmat dan selamat itu, karena
keduanya sudah merupakan hasil bagi selain Muhammad, maka
bagaimana dengan Muhammad saw. yang merupakan bukti
rahmat itu sendiri („ainu alrahmat) dan sesungguhnya yang dicari
dari Muhammad adalah lubernya şalat dan salam itu. Oleh karena
itu, ketika kamu berkata “Allahumma şalli „ala syyidinā
Muhammad” artinya semoga Allah menambahkan kepadanya
kenikmatan dan keamanan.

Pembacaan şalawat kepada Muhammad saw., dari semua orang yang beriman, akan diterima,
karena berdasarkan hadiť yang diriwayatkan oleh Jibril as., Rasul
berkata : “Sesungguhnya semua pekerjaan ada yang diterima dan
ada yang ditolak, kecuali membaca şalawat kepadaku, maka
sesungguhnya membaca şalawat akan diterima, dan sungguh
telah diriwayatkan juga, bahwa doa itu berhenti di antara langit
dan bumi, sehingga orang yang berdoa memulai dan
mengakhirinya dengan membaca şalawat kepada Nabi
Muhammad saw.

Şalawat ini mengandung banyak keutamaan, di antaranya
sabda Nabi Muhammad saw.: ”Barang siapa yang ingin bertemu
dengan Allah sedangkan Dia meriďainya, maka perbanyaklah
membaca şalawat kepada utusan-Nya” dan sabdanya
“Perbanyaklah membaca şalawat kepadaku, karena dengan
membaca şalawat, pikiran akan terbuka dan masalah akan ada
solusinya” dan sabdanya “Barang siapa membaca şalawat, maka
dosanya akan dilebur dan membaca salam kepadaku itu lebih
unggul dari pada membebaskan budak”. Taufiq hanya dari Allah.

Ketahuilah! Bahwa hukum akal itu hanya ada tiga bagian,
yaitu wajib, mustahil, dan mungkin (jawaz).

1) Wajib adalah sesuatu yang akal tidak akan mengerti apabila sesuatu itu tidak
ada.

2) Mustahil adalah sesuatu yang akal tidak akan mengerti
apabila sesuatu itu ada.

3) mumkin (jawaz) adalah sesuatu yang bisa ada dan bisa tidak ada.
Hakikat hukum akal adalah menetapkan atau meniadakan sesuatu.

Oleh karena itu, segala sesuatu yang akal
menghukumi tetap/ada, dan tidak mungkin tidak adanya, makan
inilah wajib, dan segala sesuatu yang akal menghukumi tidak ada
dan tidak mungkin adanya, maka inilah mustahil, serta segala
sesuatu yang akal menghukumi mungkin ada dan tidak ada, maka
inilah ja‟iz atau disebut juga mungkin.

Contoh wajib adalah disifatinya benda oleh gerak dan
diam, karena benda wajib disifati oleh sifat salah satunya, bukan
oleh „ain (dzatiah) salah satunya.

Contoh mustahil adalah kosongnya benda dari gerak dan diam, karena tidak akan
dimengerti apabila benda tidak bergerak dan juga tidak diam. Dan
contoh mungkin adalah disifatinya benda oleh gerak atau diam,
karena boleh saja sebuah benda terus menerus bergerak tanpa
diam atau terus menerus diam tanpa bergerak.

Dengan demikian, hukum akal itu hanya ada tiga, tidak ada bagian yang ke empat.
Oleh karena itu, Syekh berkata “yanhashiru/hanya ada”
tidak berkata “yanqasimu/terbagi”. Karena kata “yanhashiru”
berarti pembagian yang dibatasi hanya kedalam tiga bagian,
berbeda dengan jika berkata “yanqasimu” karena kata ini tidak
dapat dipahamkan kedalam kata “yanhashiru” (pembagian yang
dibatasi hanya kedalam tiga bagian).

Setiap ketiga bagian ini terbagi lagi kedalam dua bagian :
badihiy/spontan dan nazhariy/perlu pemikiran.

Wajib Badihiy artinya sesuatu yang tidak memerlukan pemikiran, namun
spontan dimengerti, misalnya satu itu setengah dari dua,
sedangkan Wajib Nadzariy artinya sesuatu tidak akan dapat
dimengerti kecuali melalui pemikiran dan perenungan, misalnya
satu itu setengah dari seperenam dari dua belas, maka hal ini tidak

spontan dapat dimengerti, namun akan dimengerti setelah
melakukan pemikiran dan perenungan.

Contoh Mustahil Badihiy satu itu setengah dari empat,

Contoh mustahil nadzoriy satu itu setengah dibagi seperenam dari dua belas.

Contoh jaiz badihiy adanya tubuh, contoh jaiz nadzoriy adalah seorang manusia
berharap akan kematian, kematian ini tidak bisa diketahui kecuali
melalui perenungan, dan perenungan ini tentunya ada pada ahli
kesehatan yang belum pernah merasakan gejala-gejala yang lebih
parah daripada gejala kematian, dan mereka tidak dapat
memberitahukan kepadanya percobaan itu kecuali melalui
pemikiran dan sangkaan, mereka yang memponis kematian
seseorang secara spontan itu adalah mustahil.

Jika seorang yang berpikir berharap akan kematian
dirinya, ketika ahli kesehatan sedang menganalisis dengan
berbagai percobaan yang membuat mereka mengetahui bahwa
terdapat gejala yang lebih parah dari pada gejala kematian, maka
boleh saja mereka memponis bahwa harapan si orang yang
berpikir akan kematian dirinya, bukanlah hal yang wajib atau
mustahil terjadi, akan tetapi mungkin saja terjadi mungkin tidak,
jika dia merasa cemas akan gejala-gejala yang lebih parah dari
gejala kematian atau bahkan dia berharap ada keajaiban, maka
ponis mati itu percumah saja bagi dia kecuali dengan hasil
percobaan. Adapun jika ahli kesehatan sebagai ahli cemas dan
berharap, memponis kematian secara spontan tanpa pemikiran
dan perenungan, itu termasuk ja‟iz (mungkin).

Kemudian sesungguhnya mengetahui ketiga hukum akal
ini, baik yang berhubungan dengan Allah, maupun yang
berhubungan dengan para utusan itu adalah bentuk keimanan
yang telah disyari‟atkan Alllah kepada kita, begitulah pendapat
Syekh Al-Asy‟ari sebagai Imam ahli sunah. Pendapat lain
mengatakan bahwa yang dimaksud dengan keimanan yang telah
disyari‟atkan Allah kepada kita adalah bisikan hati yang diikuti
dengan mengetahui ketiga hukum akal ini, pendapat ini adalah
pendapat yang dipilih (mukhtar) dan media untuk mengetahui
ketiga hukum akal ini adalah akal itu sendiri. Imam Haramain
berkata : Barang siapa yang tidak mengetahui ketiga hukum akal
itu, maka sama sekali dia belum berakal. Taufiq hanya dari Allah.

Pernyataan penyusun : “Wajib syara‟ (yang mengerjakan
mendapat pahala dan yang meninggalkan mendapat siksa) kepada
semua yang sudah balig mengetahui sifat yang wajib, mustahil,
dan ja‟iz, baik yang dimiliki Allah swt., maupun para utusan”.

Maksudnya bahwa syara‟ mewajibkan kepada semua yang balig
dan berakal mengetahui kewajiban di atas, hakikat mengetahui itu
sendiri adalah mantap terhadap sesuatu yang benar menurut
Allah, dengan menyuguhkan dalil dan argumen sebelumnya,
adapun mantap terhadap sesuatu tanpa disertai dalil dan
argumen, tidaklah dinamai ma‟rifat, baik menurut Allah benar
atau tidak benar.

Dengan demikian, taqlid (ikut-ikutan) dalam
ilmu tauhid tidak dibolehkan, begitulah pendapat sebagian
banyak ulama.

Hakikat taqlid (ikut-ikutan) adalah mantap
meyakini/melakukan sesuatu atas dasar ucapan orang lain, tanpa
adanya dalil. Orang yang taqlid (ikut-ikutan) ini tidak memiliki
ma‟rifat, dia hanya memiliki mantap (al-jazmu) saja atas dasar
ucapan orang lain.

Berdasarkan berbagai pendapat yang terpilih
dari sebagian ulama ahli hakikat tentang wajibnya marifat yang
muncul dari dalil dan argumen, maka keabsahan, kekufuran, dan
dosanya keimanan orang yang taqlid (muqollid) telah
diperdebatkan, sebagaimana Allah telah berfirman dalam Al-
Qur‟an : “Ketahuilah bahwasanya tidak ada Tuhan selain Allah”.

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kepada kita agar
mengetahui kepastian sesuatu dengan dalil dan argumen,
sedangkan bagi si muqallid pengetahuanpun tidak punya. Nabi
Muhammad saw. bersabda : “Sesungguhnya Allah memerintahkan
hamba-Nya yang beriman apa-apa yang diperintahkan kepada
para utusan-Nya”. Yang dapat diketahui secara pasti dari hadits
ini adalah bahwa para utusan tidak diperintahkan bertaqlid, akan
tetapi mereka diperintahkan berma‟rifat. Taufiq hanya dari Allah.

Sebagian sifat yang wajib dimiliki Allah ada dua puluh
sifat. Ketahuilah! Bahwa sifat yang wajib ada pada Allah swt.
adalah sifat-sifat kesempurnaan yang tidak terbatas. Syara‟ tidak
menuntut mengetahui semua sifat-sifat kesempurnaan-Nya,
karena jika kita dituntut mengetahui semua sifat-sifat
kesempurnaan-Nya, niscaya kita dituntut dengan kemampuan
yang tidak kita miliki, kemampuan yang merupakan anugrah

Allah swt. yang berfirman (Al-Qur‟an) : “Allah tidak membebani
jiwa manapun kecuali dengan sekemampuannya” Artinya; kecuali
dengan kemampuan yang ada pada jiwa itu, yang kesemuaanya
didasarkan pada adat kebiasaan. Kita dibebani dengan sebagian
sifat wajib yang dimilik Allah swt.

Oleh karena itu, penyusun menggunakan kalimat “Sebagian dari sifat yang wajib dimiliki
Allah swt.” tidak dengan kalimat “Sifat yang wajib.” Sifat adalah
al-na‟tu dan tidak ragu lagi bahwa Allah swt. disifati dengan sifat-
sifat agung, universal, dan sempurna yang tidak ada limitnya.
Pernyataan penyusun : “Di antara sifat yang dua puluh itu
adalah wujud/ada”.

Tidak ragu lagi bahwa wujud menyifati dzat
yang mahatinggi, kita sudah biasa mengatakan “Dzat Allah itu
wujud (ada) dan wujudnya adalah dzatiah wujud („ainul wujud)”
bahkan jika kamu berkehendak, maka silahkan mengatakan “Nafs
al-maujud (jiwa yang ada)”. Jika kamu mengatakan “Wujud
seseorang” maka itu artinya dzat, „ain, dan nafs seseorang.
Dengan demikian dzat, „ain, dan nafs itu satu makna. Wujud
bukanlah sifat penambah yang berada pada dzat seperti halnya
sifat qudrat (kuasa), namun wujud itu adalah sifat yang menyifati
dzat.

Begitulah menurut mazhab syekh Al-Asy‟ari. Berbeda dengan
Imam al-Razi berpendapat : “Wujud itu adalah sifat penambah
yang berada pada dzat”. Pembahasan mengenai pendapat al-Razi
ini, insyaAllah pembahasan selanjutnya.

Pernyataan penyusun : “Qidam (dahulu) dan Baqa‟
(langgeng). Hakikat qidam (dahulu) Allah swt. adalah wujud Allah
tidak didahului oleh tidak ada, dengan demikian qidam ini
bukanlah termasuk sifat maujudah (sifat yang dimiliki dzat),
seperti halnya sifat qudrat (kuasa).

Qidam Allah juga tidak didahului oleh masa, karena masa itu sesuatu yang baru, sungguh
Allah mahatinggi yang tidak ada sesuatu apapun bersama-Nya.
Allah swt. berfirman (Al-Qur‟an): “Allah itu awal dan akhir”, awal
Allah swt. tidak didahului oleh tidak ada, begitu juga, akhir Allah
swt. tidak ada limitnya. Sedangkan makna baqa‟ (langgeng), yaitu
wujud Allah tidak akan diikuti oleh tidak ada, baqa‟ juga bukan
termasuk sifat maujudah (sifat yang dimiliki zat).

Pernyataan penyusun : “Allah swt. Berbeda dengan semua
yang baru”. Maksudnya : menafikan segala bentuk penyerupaan
kepada Allah, baik terhadap zat, sifat, maupun perbuatan-Nya.
Allah swt. berfirman (Al-Qur‟an): “Tidak ada yang menyerupai
Allah suatu apapun, Allah itu maha mendengar dan melihat”.
Perkataan penyusun: “Allah berada dengan sendirinya”.
Maksudnya: Allah tidak memerlukan tempat dan pencipta, yang
dimaksud dengan “tempat” adalah dzat, sedangkan yang
dimaksud dengan “pencipta” adalah pelaku.

Dengan demikian, makna berada dengan sendiri-Nya adalah menafikan butuhnya
Allah swt. terhadap dzat untuk didiami, seperti halnya sesuatu
yang baru memerlukan bentuk untuk didiami, dan menafikan
butuhnya Allah kepada pelaku.

Karena, jika Allah membutuhkan dzat untuk didiami, seperti halnya sesuatu yang baru memerlukan
bentuk untuk didiami, niscaya Allah itu susuatu yang baru dan itu
mustahil, dan jika Allah membutuhkan pelaku, niscaya Allah itu
sesuatu yang baru dan itu mustahil juga, sebagaimana yang akan
dijelaskan selanjutnya. Wajib adanya Allah itu berupa dzat yang
disifati oleh sifat sempurna yang tidak membutuhkan makhluk
apapun, yang justru makhluk itu membutuhkan-Nya.

Allah swt.berfirman (Al-Qur‟an) : “Wahai manusia! Kalian membutuhkan
Allah, sedangkan Allah mahakaya dan maha terpuji” dan firman
Allah swt. “Allah tempat bergantung semua makhluk, tidak
melahirkan dan tidak dilahirkan” Al-şamad artinya yang
dibutuhkan oleh selain Allah.

Tidak diragukan lagi bahwa semua makhluk
membutuhkan Allah, baik mulanya maupun seterusnya, tidak ada
seorangpun yang tidak membutuhkan Allah swt., dan jika
seseorang mengetahui bahwa dirinya membutuhkan Allah sebagai
Pengurusnya, dan bahwasanya kemanfaatan dan pertolongan
berada dibawah kekuasaan-Nya, maka dia tidak mungkin
berpaling dari-Nya, dan akan selalu menyandarkan segala urusan
kepada-Nya, dan akan selalu menghadapkan wajah kepada-Nya,
dan dia tidak berserah diri kecuali kepada-Nya, karena
sesungguhnya orang yang berserah diri kepada-Nya dalam segala
urusan, niscaya Allah akan mencukupinya.

Allah swt. berfirman : “Barang siapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan
menyukupi kebutuhannya” dan sabda Nabi “Bertawakallah kalian
kepada Allah dengan sebenarnya tawakal, niscaya Allah akan
memberikan rizki kepada kalian, seperti halnya Allah memberi
rizki pada burung-burung, ketika pagi-pagi berangkat dengan
perut kosong, dan sore-sore datang dengan perut berisi. Taufiq
hanya dari Allah swt.

Pernyataan penyusun : “Wahdaniyat (Allah Esa)”. Yaitu
Allah tidak ganda, baik dzat, sifat, maupun perbuatan-Nya. Makna
wahdaniat itu sendiri adalah menafikan susunan dan
perumpamaan, baik terhadap dzat, sifat, maupun perbuatan-Nya,
Allah adalah tunggal yang tidak mungkin terbagi, karena Allah
bukan berupa bentuk dan jasad, Allah swt. tidak berbentuk dan
tidak berjasad, tidak berupa atom atau ion, Allah bukan dari jenis
jasad, yaitu sesuatu yang dapat dibagi, akan tetapi Allah dzat yang
disifati oleh sifat-sifat yang agung.

Oleh karena itu, diungkapkan dalam hakikat tauhid “Bahwa Allah itu adalah menetapkan dzat
yang tidak serupa dengan dzat-dzat lain, dan mengabaikan sifat-
sifat yang tidak layak, tidak ada satu dzatpun yang serupa dengan
dzat Allah, tidak ada satu namapun yang serupa dengan nama
Tuhan kita, tidak ada satu sifatpun yang serupa dengan sifat
Allah, penyerupaan hanya dari aspek pelapalan saja”.

Pernyataan penyusun : “ Ini adalah enam sifat, sifat
pertama “nafsiah” (sifat dzatiah) yaitu sifat wujud/ada dan lima
sifat setelah sifat wujud ini digolongkan pada “salbiah” (sifat yang
meniadakan sifat yag tidak layak dimiliki Allah). Maksudnya : sifat
yang pertama adalah sifat wujud digolongkan kedalam sifat

nafsiah artinya bahwa wujud/ada adalah nafs al-dzat dan „ain al-
dzat (sejati dzat), seperti yang telah dijelaskan di atas, dan dzat
sesuatu berarti hakikat sesuatu. Jadi, sesungguhnya makna
wujud/ada dikembalikan pada dzat al-maujudah/yang ada,
begitulah pendapat madzhab al-Asy‟ari, yang bersebrangan
dengan pendapat madzhab al-Razi.

Menyatukan dua pendapat yang berbeda ini, mungkin saja, jika pendapat madzhab al-Asy‟ari
dimaksudkan untuk segala yang bukti (al-kharij),

Karena pendapat madzhab al-Asy‟ari ini merujuk pada sebuah makna
yang ada pada bukti (al-kharij) dan fakta (al-„iyan), dan seperti
itulah pendapat al-Razi, yaitu dimaksudkan pada segala yang
bukti (al-kharij), karena akal akan dapat mengerti sesuatu yang
wujud/ada, dan tidak mengerti zat yang disifat wujud/ada
tersebut. Dengan demikian, dua pendapat ini menjadi sama. Allah
swt. maha mengetahui.

Lima sifat setelah sifat wujud digolongkan pada sifat
salbiah artinya setiap lima sifat dari sifat salbiah itu meniadakan
sifat yang tidak layak dimiliki Allah swt..

Qidam (dahulu) menafikan adanya Allah didahului oleh tidak ada, baqa‟
(langgeng) menafikan adanya Allah diikuti dengan tidak ada,
mukhalafahlilhawadits (berbeda dengan makhluknya) menafikan
sama dengan makhluknya, qiyamuhubinafsishi (berada dengan
sendirinya) menafikan Allah membutuhkan dzat dan pelaku,
wahdaniat (esa/tunggal) menafikan adanya teman, baik menyatu
atau berpisah. Taufiq hanya dari Allah.

Pernyataan penyusun : “Allah wajib memiliki tujuh sifat
yang disebut sifat al-ma‟ani”. Ketahuilah bahwasanya semua sifat
yang berada dengan sendirinya dan menempati dzat Allah swt.
disebut sifat al-ma‟ani.

Pernyataan penyusun : “Yang termasuk sifat ma‟ani ini
adalah qudrat (kuasa) dan iradat (berkehendak) terhadap segala
sesuatu yang mungkin” Qudrat (kuasa) adalah sifat yang ada, yang
qadim (dahulu) berdasarkan dahulunya dzat, yang dimiliki oleh
dzat Allah, dengan sifat ini Allah swt. mengadakan dan
meniadakan segala yang mungkin berdasarkan kehendak qadim
(dahulu) Allah.

Iradat (berkehendak) adalah sifat yang ada, yang
qadim (dahulu), yang berada pada dzat Allah, dengan sifat ini,
Allah mengkhususkan segala yang mungkin, seperti menjadikan
tinggi, pendek, putih, hitam, dan sebagainya, yang merupakan
segala sesuatu yang ja‟iz (mungkin).

Qudrat dan iradat ini berhubungan dengan segala sesuatu yang mungkin (ja‟iz), dan
tidak akan dimengerti jika berhubungan dengan yang bukan
mungkin, karena qudrat berfungsi mewujudkan dan meniadakan
segala yang mungkin dan iradat berfungsi mengkhususkannya,
baik yang berhubungan dengan waktu, tempat, jihat/arah, atau
lain sebagainya dari segala sesuatu yang mungkin. Dengan
demikian, mewujudkan, meniadakan dan mengkhususkan hanya
pada segala sesuatu yang ja‟iz (mungkin). Ini artinya qudrat dan
iradat wajib berhubungan hanya dengan segala yang ja‟iz
(mungkin). Taufiq hanya dari Allah.

Pernyataan penyusun : “Pengetahuan yang berhubungan
dengan semua yang wajib, ja‟iz, dan mustahil adalah sifat ilmu
Allah, sebagai sebuah sifat yang ada, yang dimiliki dzat Allah, yang
dengan sifat ilmu itu terbuka segala sesuatu. Artinya, dengan sifat
ilmu ini, segala yang maklum, baik segala yang wajib, ja‟iz, dan
mustahil menjadi benar adanya.

Allah mengetahui semua pembagian hukum akal,
mengetahui yang qodim (dahulu) yang sedikitpun adanya Allah
tidak didahului dengan tidak ada, mengetahui apapun yang telah,
sedang, akan dan yang tidak/belum terjadi, dan segala yang
mungkin tidak dapat bersembunyi dari ilmu Allah.

Allah swt. berfirman (Al-Qur‟an) : “Sungguh kami telah
menciptakan manusia dan Kami mengetahui apapun yang
dibisikan dalam hatinya dan Kami lebih dekat dari urat leher”
yakni lebih dekat tahunya, bukan lebih dekat jaraknya. Al-warīd
adalah urat yang berada didalam tenggorokan, pendapat lain Al-
warīd adalah urat yang diikatkan pada seutas tali, jika tali itu
terputus, maka pemiliknya akan mati.

Ayat ini merupakan penolakan bagi makhluk, karena jika mereka mengetahui bahwa
Allah mengetahui berbagai kejahatan yang dibisikan oleh hati-
hati dan yang dikerjakan oleh mereka, niscaya orang yang berakal
(mengerti) harus merasa bahwa segal keinginan duniawinya
diawasi oleh Allah, karena Allah Maha melihat dan maha
mendengar.

Sifat ilmu ini bukan merupakan bagian dari sifat-sifat
yang dapat memberikan bekas/pengaruh, akan tetapi sifat ilmu ini
sifat pembuka segala sesuatu yang mungkin. Oleh karena itu, sifat
ilmu ini harus berhubungan dengan segala yang wajib, ja‟iz, dan
mustahil.

Pernyataan penyusun : “Sifat hayat (hidup) tidak
berhubungan dengan sesuatu apapun”. Maksudnya : sifat hidup
ini keberadaannya tidak membutuhkan sesuatu yang lebih, akan
tetapi sifat hayat ini merupakan syarat bagi semua sifat, berbeda
dengan seluruh sifat ma‟ani, yang menuntut hubungan dengan
sesuatu yang lain, misalnya, sifat qudrot (kuasa) menuntut
sesuatu yang lebih pada dzat dan sifat qudrat ini berhubungan
dengan sesuatu yang mungkin, begitu halnya sifat-sifat ma‟ani
lainnya, kecuali sifat hayat (hidup), karena sifat hayat ini sifat
yang ada, yang dimiliki dzat Allah. Taufiq hanya dari Allah.

Pernyataan penyusun : “Sama‟ (mendengar) dan bashar
(melihat) berhubungan dengan semua yang ada”.

Maksudnya : pendengaran dan penglihatan Allah menjadikan terbuka segala
yang ada, baik segala yang ada itu qodim (dahulu) maupun hadits
(baru), baik dzat maupun sifat, baik bunyi atau yang lainnya. Allah
swt. mendengar dan melihat dzat, warna-warni, bentuk-bentuk,
bebauan, cinta, marah, bisikan hati, dan semua benda-benda yang
ada.

Jika engkau berkata “Bagaimana bisa sifat sama‟
(mendengar) berhubungan dengan selain bunyi-bunyi? Dan apa
dalilnya? Jawabannya adalah berdasarkan dalail naqli (dari Al-
qur‟an dan Al-hadits) dan „aqli (akal).

Dalil naqli adalah firman Allah swt. (Al-Qur‟an) : “Allah
benar-benar berbicara kepada nabi Musa” Ayat ini menunjukan
pendengaran nabi Musa yang dikhususkan pada bunyi-bunyian,
jika nabi Musa AS tidak mendengar firman Allah tersebut adalah
hal yang mesti, maka ta‟alluq (hubungan) sifat sama‟ tidak hanya
dikhususkan pada bunyi-bunyian, akan tetapi, harus berhubungan
dengan segala yang ada, ini adalah pendengaran yang
berhubungan dengan sasuatu yang baru, maka bagaimana yang
berhubungan dengan pendengaran qodim (dahulu).

Sedangkan berdasarkan dalil akal, jika sifat sama‟ hanya berhubungan
dengan bunyi-bunyian dan tidak dengan selain bunyi/segala yang
ada, maka Allah membutuhkan pencipta, sedangkan tidak ada
yang membutuhkan pencipta kecuali segala yang ada, dan hal ini
mustahil bagi Allah swt. Dengan demikian, ta‟alluq (hubungan)
sifat sama‟ harus pada segala yang ada, seperti halnya sifat bashar
(melihat), inilah yang dimaksud di sini.

Mendengar dan melihat Allah sama sekali tidak menggunakan alat pendengaran/
penglihatan, seperti halnya makhluk, karena mustahil Allah
menyerupai terhadap segala yang baru. Taufiq hanya dari Allah.

Pernyataan penyusun: “Sifat kalam (bicara) yang tidak
menggunakan hurup dan bunyi, ta‟aluq/hubungannya sama
dengan sifat ilmu (yaitu segala yang wajib, mustahil, dan ja‟iz)”.
Maksudnya: bahwa sifat kalam (bicara) Allah mustahil mengguna-
kan hurup dan bunyi dan apapun makna dibalik hurup dan bunyi,
baik ada awal, ada akhir, diam, baru, cacat, struktur bahasa, keras,
dan bisik-bisik, karena itu semua dimiliki oleh segala yang baru.

Sifat kalam Allah adalah sifat yang ada, yang dimiliki dzat Allah
yang mahatinggi dan dibahasakan dengan bahasa makhluk,
seperti dalam kitab Taurat, Injil, Zabur, dan al-Qur‟an. Namun,
semua ibarat ini bukanlah sejati kalam Allah („ain al-kalam),
karena itu semua menggunakan hurup dan bunyi, hanya saja
hurup-hurup ini menunjukan kalam qodim (dahulu) Allah.

Kalam Allah tidak dimaksudkan dengan segala sesuatu dari kitab-kitab
tersebut, akan tetapi sifat kalam Allah berada pada dzat Allah yang
mahatinggi yang tidak bisa dipisahkan dan selain Allah tidak
mungkin memilikinya, namun ketika hurup-hurup al-Qur‟an,

Misalnya, menunjkukan kalam Allah, maka al-Qur‟an disebut
kalam Allah swt., berdasarkan perkataan Siti „Aisyah r.a. “Segala
sesuatu yang berada di antara dua lembaran mushaf adalah kalam
Allah”. Oleh karena itu, Ahlussunah sepakat bahwa kalam Allah
itu dibaca oleh lidah ditulis di atas mushaf dan dan dijaga dalam

hati, maka jelas bagi kita bahwa perbedaan pendapat hanya terjadi
pada…., sedangkan mengenai kalam Allah itu sendiri tidak ada
perdebatan dan perubahan, akan tetapi sifat kalam Allah itu
adalah satu dan tidak berbilang, mahasuci Allah sebagai dzat yang
tidak ada suatu apapun yang serupa dengan-Nya, Dia maha
mendengar dan melihat, sedangkan segala sesuatu yang engkau
menjadikan serupa kepada-Nya, maka telah dijelaskan oleh
pembahasan saya sebelumnya.

Saya katakan: Allah yang maha dimintai pertolongan,
ketika kalam Allah diturunkan pada al-mutsul al-a‟la, bagaikan
seorang lelaki yang kemudian kamu sebut lelaki itu dengan
lidahmu, maka penyebutan lelaki itu masuk ke dalam lidahmu,
sedangkan diri lelaki itu tidak ada pada lidahmu, inilah yang
dimaksud dengan yang diucapkan dengan lidahmu.

Sebelumnya, kamu menjaga urusan lelaki itu, ketika lelaki
itu menyuruh atau melarang sesuatu kepadamu, sedangkan lelaki
yang memerintah dan menyuruhmu itu tidak ada dalam hatimu,
itulah yang dimaksud dengan terjaga dalam hati. Kemudian kamu
tulis nama lelaki itu dalam bukumu, maka nama lelaki itu ada
dalam buku itu, namun diri lelaki itu tidak ada dalam buku itu,

Inilah yang dimaksud dengan tertulis dalam mushhaf, kamu
jangan mengira bahwa bacaan dan qiro‟at adalah kalam qodim
Allah, maka tidak seperti itu, karena itu hanya menunjukan kalam
Allah swt. Jika bacaan dan qira‟at adalah kalam qodim Allah,
niscaya kalam qodim Allah itu akan ada di lidahmu seperti halnya
bacaan dan qira‟at,

dan sesungguhnya kalam Allah swt. disertai
dengan dzat Allah swt. yang tidak mungkin terpisahnya.
Sudah sepakat ahlussunah dan jama‟ah bahwa kalam
Allah tidak berada pada dua dzat dan tidak ada dua yang bicara
dengan kalam Allah dengan satu pembicaraan kecuali Allah.

Ketahuilah bahwa penyebutan bacaan dan qira‟at untuk kalam
Allah, itu seperti hubungan bayang-bayang dengan bentuk aslinya,
barang siapa yang mengira bacaan dan qira‟at bagian dari kalam
qodim Allah, maka dia bagaikan seorang lelaki yang melihat
bayang-bayang dari sebuah bentuk aslinya, kemudia dia berkata
“Ini adalah bayangan dan itu adalah bentuk aslinya.

Ketahuilah bahwa jika kamu mendengar kalam Allah dari
seorang manusia, maka kamu mendengarnya hanya yang dibaca
itu, karena bacaan yang dimiliki lelaki itu kembali pada bacaan
dan qira‟at, yang Allah swt. disucikan dari keduanya, karena
keduanya menggunakan hurup, bunyi-bunyi, dan struktur bahasa.
Jika Allah swt. berfirman,

maka firman Allah tidak menggunakan suara, bunyi, dan ucapan, karena kalam Allah itu
tunggal, yang dapat dipahami dari yang tunggal itu : perintah,
larangan, dan anjuran. Kalam Allah bukan berupa bahasa Arab,
karena jika kalam Allah seperti itu, niscaya kalam Allah itu
menggunakan struktur bahasa, hanya seja secara bacaan
menggunakan bahasa Arab,

maka disebutlah Al-Qur‟an, sebagai
sebutan untuk struktur bahasa saja bukan secara istilah.
Jika bacaan/tilawah Allah itu sesuatu yang baru, maka
apa yang dimaksud dengan firman-Nya “Itulah al-Qur‟an yang
Kami membacanya untuk kalian dari ayat-ayat dan dzikir yang
penuh hikmah” Jawabannya adalah mungkin saja yang membaca
itu Jibril atas kehendak Allah,

sebagaimana firman-Nya “Kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya” padahal
yang mengolah bumi adalah para pembajak/petani, kemudian
Allah menyandarkan itu semua pada diri mereka, dan barang
siapa yang mengira bahwa yang membaca itu Allah swt., Syekh
Yusup berkata dia sudah kelar dari madzhab orang-orang Islam,
karena arti pembacaan dan qira'at menurut Ahlussunah adalah
bagian dari bahasa qari`(pembaca), sedangkan Allah swt.
dijauhkan dari pembacaan dan qira'at tersebut.

Oleh karena itu, dengan anugerah dari Allah, dapat
dipahami firman-Nya “Katakanlah ruhul qudus (Jibril a.s.)
menurunkan Al-Qur'an itu dari Tuhan-mu dengan benar" ruhul
qudus di sini adalah Jibril a.s. Ada pendapat lain yang
mengatakan bahwa Jibril sedang berada di atas, kemudian
mendengar kalam Allah atau Allah mewahyukan kepadanya dari
al-lauh al-mahfudz, sedangkan Allah swt. tidak berada di arah
manapun,

adapaun selain Jibril, yaitu Muhammad SAW
menggunakan bahasa Arab untuk memahami kalam Allah yang
tertera dalam al-lauh al-mahfudz itu, kemudian jibril
menyampaikannya kepada Muhammad dengan bahasa Arab,
sedangkan sesuatu yang dibahasakannya (kalam Allah) bukan
bahasa Arab, inilah makna “turun”.

Kalam Allah berhubungan dengan segala yang wajib, ja‟iz,
dan mustahil, seperti halnya sifat ilmu, makna hubungan tersebut
adalah berupa dilalah-nya.

Contoh dilalah pada sesuatu yang wajib, firman Allah (al-Qur‟an) : “Katakanlah (Muhammad) bahwa
Allah itu hanya satu, Allah tempat tujuan semua makhluk, yakni
yang dibutuhkan oleh selain-Nya, dan firman-Nya “Wahai
sekalian manusia! Kalian adalah yang sangat membutuhkan
Allah” tidak diragukan lagi mengenai wajib butuhnya makhluk
kepada Allah,

contoh dilalah pada sesuatu yang mustahil, firman
Allah “Allah tidak melahirkan dan tidak dilahirkan dan tidak ada
satu orangpun yang menyaingi-Nya” contoh dilalah pada sesuatu
yang ja‟iz, firman-Nya “Dan Tuhanmu yang telah menciptakan
dan memilih segala sesuatu atas kehendak-Nya” karena makhluk
adalah bagian dari sesuatu yang ja‟iz. Inilah yang dimaksud
dengan ta‟alluq (hubungan) sifat kalam Allah. Taufiq hanya dari Allah.

(Sebuah faidah) Musa as. telah mendengar kalam
Tuhannya, bukanlah yang dimaksud mula-mula Allah diam
kemudian berbicara dan pembicaraan-Nya tidak putus-putus,
namun yang dimaksud adalah bahwa Allah menghilangkan
hijab/penghalang dari Musa dan memberi kekuatan kepadanya
sehingga dapat mendengar kalam Allah, karena sekiranya
hijab/penghalang itu dikembalikan, niscaya beliau tidak akan
mendengar lagi kalam Allah itu.

Pernyataan penyusun : kemudian tujuh sifat yang disebut
sifat ma‟nawiyah, adalah sifat yang mulajamah/ saling berkaitan
dengan tujuh sifat diatas, yaitu Allah itu yang mahakuasa, yang
berkehendak, yang mengetahui, yang mendengar, yang melihat,
yang hidup, dan yang berfirman.

Sifat-sifat ini diambil dari sifat-sifat al-ma‟ani. Oleh karena itu, sifat-sifat ini disebut sifat
ma‟nawiah, yaitu sifat yang dinisbatkan pada sifat-sifat al-ma‟ani,
adapun perbedaannya adalah bahwa sifat ma‟ani adalah sifat-sifat
yang wajib ada dan dimiliki oleh dzat Allah yang mahatinggi
seperti penjelasan di atas, sedangkan sifat ma‟nawiyah adalah
sifat yang menyifati dzat, bukanlah maujudat/sifat yang ada,
karena maujudat/sifat yang ada itu hanya sifat ma‟ani.

Allah yang mahakuasa dan yang maha berkehendak
merupakan ibarat untuk menyatakan adanya kehendak yang
dimiliki Allah swt., Allah yang maha mengetahui merupakan
ibarat untuk menyatakan adanya pengetahuan yang dimiliki Allah,
Allah yang maha hidup merupakan ibarat untuk menyatakan
adanya kehidupan yang dimiliki Allah, Allah yang maha
mendengar merupakan ibarat untuk menyatakan adanya
pendengaran yang dimiliki Allah,

Allah yang maha melihat merupakan ibarat untuk menyatakan adanya penglihatan yang
dimiliki Allah, Allah yang maha bicara merupakan ibarat untuk
menyatakan adanya pembicaraan yang dimiliki Allah swt.. Dengan
demikian, makna sifat ma‟nawiyah dikembalikan pada sifat
ma‟ani dan tidak berada pada dzat seperti halnya sifat ma‟ani.
Taufiq hanya dari Allah.

Pernyataan penyusun : “Ada dua puluh sifat dari sebagian
sifat mustahil yang dimiliki Allah, yang merupakan antonim dari
dua puluh sifat yang wajib dimiliki Allah, yaitu tidak ada (al-
„adam), baru (al-huduts), dan Allah ada akhirnya. Setelah syekh
menyelesaikan dua puluh sifat yang wajib dimiliki Allah, beliau
bermaksud menjelaskan dua puluh sifat yang mustahil dimiliki
Allah dan urutan keduapuluh sifat ini sama halnya dengan urutan
dua puluh sifat yang wajib dimiliki Allah sebelumnya.

„Adam (tidak ada) lawan dari wujud (ada), baru (huduts) lawan dari
qidam (dahulu), berakhir lawan dari tidak berujung.
Pernyataan penyusun: “Menyerupai dengan yang baru,
yaitu Allah itu berupa bentuk, artinya dzat Allah yang mahatinggi
membutuhkan tempat kosong untuk ditempati, ini adalah
mustahil karena berlawanan dengan sifat mukhalafah lil hawadits
(berbeda dengan segala yang baru) sebagai bagian dari sifat
ma‟ani”

di sini, Syekh menyebutkan bahwa penyerupaan itu ada
beberapa macam, diantaranya ada yang berupa bentuk, yaitu
segala sesuatu yang menempati tempat kosong dengan sendirinya,
misalnya manusia atau segala sesuatu yang diciptakan, semuanya
itu di sebut bentuk, karena memerlukan ukuran yang pas untuk
ditempati, seperti manusia.

Pernyataan penyusun : “Ada juga berupa „aradl (sesuatu
yang menempel pada bentuk). Ini juga merupakan bagian dari
penyerupaan yang mustahil, yaitu eksistensi Allah berupa sesuatu
yang menempel pada bentuk („aradl). Hakikat „aradl itu adalah
sebuah makna yang berada pada bentuk dan tidak bisa berdiri
sendiri, seperti warna-warni, berbagai rasa, bebauan, bunyi-bunyi,
berbagai gerak dan diam, ini semua adalah „aradl. Mustahil
eksistensi al-aradl itu berdiri sendiri, namun memerlukan bentuk
yang dapat ditempati.

Oleh karena itu, „aradl ini dibagi empat
bagian berdasarkan bahwa sesuatu yang diciptakan (makhluk)
terdiri dari bentuk dan „aradl, dan segala yang ada dalam
kaitannya dengan tempat dan pelaku (pencipta) terbagi kedalam
empat bagian :

1. Ada yang tidak membutuhkan dzat dan pelaku, yaitu dzat
Tuhan kita, Allah swt.

2. Ada yang membutuhkan dzat dan pelaku, yaitu „aradl
(sifat yang berada pada bentuk), yang mustahil tidak
membutuhkannya.

3. Ada yang membutuhkan pelaku dan tidak membutuhkan
dzat untuk ditempati, yaitu berbagai bentuk/al-ajram

4. ada yang dimiliki dzat dan tidak membutuhkan pelaku,
yaitu sifat Allah swt.

Pernyataan penyusun: “Allah memerlukan arah yang biasa
dibutuhkan oleh bentuk” . Ini juga merupakan bagian dari
penyerupaan yang mustahil, yaitu eksistensi Allah berada di
sebuah arah/jihat, maka tidak boleh dikatakan Allah itu berada di
atas, di bawah, di kanan, di kiri, di depan, di belakang, di Arsy,
karena itu semua bagian dari sifat-sifat bentuk dan Allah
dibersihkan dari itu semua, maha suci Allah yang tidak ada
apapun yang serupa dengan-Nya, Allah maha mendengar dan
melihat.

Pernyataan penyusun : “Allah itu Arah/Jihat”. Ini juga
merupkan bagian dari penyerupaan yang mustahil, yaitu
menetapkan arah/ jihat kepada Allah, karena arah/jihat bagian
dari karakter bentuk yang bisa tinggi, pendek, di kanan, di kiri dan
karakter-karakter bentuk lainnya.

Allah bukanlah sesuatu yang memiliki bentuk, karenanya Allah tidak memiliki arah/jihat, dan
barang siapa yang meyakini Allah memiliki arah/jihat, maka ada
pendapat yang mengkufurkannya, ada juga pendapat yang tidak
mengufurkan, akan tetapi orang itu menjadi fasiq dan ahli bid‟ah.
Taufiq hanya dari Allah.

Pernyataan penyusun : “Allah tidak terikat oleh tempat
dan masa”. Masudnya adalah mustahil Allah mendiami tempat,
seperti berada di Arsy, karena tempat itu hal yang baru, dan tidak
ada yang menempati hal baru itu kecuali yang membutuhkannya,
yaitu segala yang baru, sedangkan Allah SWT tidak menempati
apapun, yang biasa ditempati oleh makhluk, tidak berdampingan,
tidak bersebrangan, tidak berada di sebelah kanan, dan tidak
berada di belakang makhluk.

Jika Allah menempati suatu tempat,
niscaya Dia membutuhkan tempat, dan jika dia membutuhkan
tempat, maka Dia tidak mampu membuat tempat atau yang
lainnya, dan semua yang mendiami sebuah tempat, maka tidak
akan lepas dari tiga hal : mungkin dia lebih kecil, pas, atau lebih
besar daripada tempat itu, kalau seperti itu, maka Allah boleh
mendiami sebuah bentuk atau arah/jihat, kalau demikian, maka
wujud Allah itu wujud a‟la al-taqayyud (maha tinggi yang
terbatas) bukan wujud a‟la al-ithlaq (mahatinggi yang tidak
terbatas), kalau demikian maka mesti Allah itu berupa bentuk/
jasad.

Berdasarkan penjelasan di atas, wujud Allah juga tidak
terikat oleh masa, karena wujud Allah itu muthlaqun ajaliyun,
sedangkan masa merupakan hal yang baru, karena masa itu
sebuah istilah untuk perubahan cakrawala atau istilah dari
gerakan berbarengannya hal baru dengan hal baru lainnya,
sedangkan Allah ada dan tidak ada sesuatu apapun bersamanya,
mahasuci Allah yang tidak membutuhkan tempat dan masa.

Pernyataan penyusun : “Dzat Allah disifati oleh segala
yang baru, atau Allah disifati oleh kecil dan besar, Allah disifati
oleh „ardl, baik segala perbuatan atau hukum-Nya. Mustahil hal-
hal baru dimilki Allah, mustahil Allah disipati oleh kecil, besar,
warna-warni, berbagai bentuk, karena itu semua sifat-sifat bentuk,
begitu juga Allah tidak disifati oleh kefarduan (keharusan), baik
dalam segala perbuatan maupun dalam hukum-Nya, itu semua
mustahil, tidak ada keparduan (keharusan) bagi Allah untuk
menciptakan, menghalalkan, dan mengharamkan sesuatu. Jika
ada keharusan bagi Allah terhadap segala sesuatu, niscaya Allah
membutuhkan untuk menyempurnakan dan merevisinya, hal itu
mustahil bagi Allah. Allah mahakaya, sedangkan kalian sangat
membutuhkan-Nya. Allah tidak meminta dalam melakukan segala
hal, sedangkan kalian memohonnya.

Pernyataan penyusun : “Mustahil adanya Allah tidak
dengan sendiri-Nya, artinya Allah itu berupa sifat yang menempel
pada sebuah tempat atau membutuhkan yang menciptakan.
Engkau telah mengetahui penjelasan sebelumnya, bahwa makna
dari Allah ada dengan sendiri-Nya adalah Allah sama sekali tidak
membutuhkan dzat atau pelaku, dan lawan dari itu adalah Allah
membutuhkannya, ini adalah mustahil, seperti yang akan di
jelaskan di depan, insyaAllah.

Pernyataan penyusun : “Mustahil Allah tidak satu, artinya
dzat Allah terasusun, atau ada dzat atau sifat yang menyerupai-
Nya, atau perbuatan Allah dibawah pengarauh yang lain, ini juga
telah dijelaskan sebelumnya, bahwa wahdaniyat (esa) adalah
menafikan susunan dalam dzat Allah yang mahatinggi, menafikan
penyerupaan, baik pada dzat, sifat, dan perbuatan Allah,
sedangkan lawan dari esa ini adalah tidak tunggal, baik dalam
dzat, sifat, dan perbuatan, itu mustahil, karena Allah dzat tempat
bermohon makhluk.

Pernyataan penyusun : “Mustahil Allah tidak mampu atau
terpaksa dalam mewujudkan segala sesuatu yang ada di dunia”.
Ketahuilah bahwa tidak berkehendak Allah, lalai/lupa, hukum
kausalitas, atau karena watak, itu semua adalah lawan dari sifat
qudrat (kuasa), karena kuasa Allah meliputi segala apapun yang
mungkin, jika Allah tidak mampu membuat segala yang mungkin,
walaupun hanya satu hal, itu artinya Allah membutuhkan pelaku
yang menciptakan-Nya, maka Allah itu hal yang baru, dan tidak
mampu Allah itu adalah hal yang mustahil. Firman-Nya : “Allah
maha kuasa menciptakan segala sesuatu”.

Pernyataan penyusun : “Allah terpaksa/tidak berkehendak
mewujudkan segala sesuatu yang ada di dunia, atau Allah
lalai/lupa, atau menggunakan hukum kausalitas, atau karena
watak-Nya”. Itu semua lawan dari sifat kehendak dan kuasa Allah.
Mustahil Allah menciptakan segala sesuatu tanpa sekehendak-
Nya, maka berarti Allah itu tidak ada.

Semoga Allah menjadikan
kita dan orang-orang yang kita cintai ketika meninggal dunia
mampu mengucapkan dua kalimat syahadat, mampu
mengaflikasikan makna yang terkandung didalamnya, dan
dijauhkan hati-hati kita dari akidah ahli bid‟ah dan sesat, semoga
Allah mengumpulkan kita beserta orang-orang yang sholeh,
memakaikan kita daster orang-orang yang bertaqwa, memberikan
taufiq kepada kita dengan…….

Semoga Allah memberikan rahmat dan penghormatan
kepada tuan dan nabi kita Muhammad saw, kepada para keluarga,
dan sahabat, sebanyak orang-orang yang ingat sebutkan dan
orang-orang yang lupa dari dzikir tersebut,

semoga Allah melimpahkan keridloan kepada para sahabat Rasulullah, para
pengikut sahabat, dan orang-orang yang mengikuti jejak para
pengikut sahabat dengan kebaikan sampai hari kiamat, maha suci
Tuhanku, Tuhan yang mahamulia yang dijauhkan dari apa yang
orang-orang kafir sifati, semoga salam sejahtera tercurah pula
kepada para utusan, dan segala puji milik Allah swt. yang
mengurus alam.

Ketahuilah bahwa wajib kepada seluruh orang yang sudah
baligh mengucapkan kalimat yang sudah terkenal ini minimal
satu kali dalam sumur hidup dan meyakini wajib dalam
mengucapkannya, dan apabila lebih dari satu kali, itu hanyalah
sunat, karena berdasarkan hadits yang diriwayatkan mengenai
keutamaan membaca kalimat tersebut.

Sabda nabi Muhammad
saw. “Hal yang paling utama yang aku (Muhammad) dan para
nabi sebelumku ucapkan adalah membaca laa ilaaha illallahu”,
dan sabdanya “Perbanyaklah membaca laa ilaaha illallahu
sebelum dilipatgandakan di antara kalian dan laa ilaaha illallahu”
dan sabdanya “Rasulullah telah mensyari‟atkan “Beri petuahlah
(talqin) orang-orang yang meninggal di antara kalian dengan laa
ilaaha illallahu, karena itu sesungguhnya akan melebur dosa-dosa
kalian, para sahabat bertanya “Wahai Rasul! Jika seseorang
memberi talqin (petuah) semasa hidup mereka” Rasul menjawab
“itu akan lebih melebur dosa-dosa” .

Sebagian ulama mensyari‟atkan bahwa istiqamah membaca
laa ilaaha illallahu ketika memasuki rumah, maka akan
menghilangkan kefakiran. Banyak hadits mengenai keutamaan
membaca laa ilaaha illallahu ini, yang telah diuatarakan oleh
Syekh (yusuf) dalam syarh/ penjelasannya dengan jumlah yang
cukup banyak, maka hendaknya kalian semua melihat dan
membacanya.

Syekh Yusuf menghimbau agar memperbanyak
membacanya, yang dimaksud bukan hanya membaca dengan lidah
sementara hatinya lupa, walaupun ada pendapat yang mengatakan
tetap bermanfaat, akan tetapi yang dimaksud adalah
mengucapkan dengan lidah dibarengi dengan hadirnya hati untuk
memahami maknanya.

Oleh karena itu, Syekh Yusuf berkata
berusalah seseorang menghadirkan akidah-akidah iman sehingga
bercampur makna laa ilaaha illallahu dengan daging dan
darahnya. Karena hal ini akan dapat dilihat keberkahan,
keburukan, dan keanehan dari membaca laa ilaaha illallahu itu,

sebagaimana Syekh Yusuf dan ulama-ulama lain meriwayatkannya
“Setiap seseorang akan mendapatkan keberkahan dari membaca
laa ilaaha illallahu berdasarkan ukuran kepentingan, kehadiran
hati, dan menyebut nama Tuhannya yang maha agung dan
mahamulia”.

Oleh karena itu, Muhammad saw. bersabda :
“Sesungguhnya Allah tidak memandang rupa dan amal kalian,
namun Allah memandang hati kalian dan sabdanya:
“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima doa orang yang
hatinya lupa dan hendaknya orang yang berakal memohon
pertolongan atas itu kepada Allah, karena taufiq dan kebengalan
hanya dari-Nya”.

Syekh Yusup - semoga rahmat untuk beliau, taufiq hanya
dari Allah, yang tidak ada Tuhan selain-Nya, tidak ada yang
diibadahi selain-Nya, tidak samar lagi bagimu, meraih kebaikan
doa syekh Yusup, khususnya bagi diri beliau dan orang-orang yang
dicintainya,

dengan penutup ini dalam menyempurnakan segal
kemustahilan, itu semua dengan membacakan dua kalimat
syahadat- “Ini adalah akhir dari segala yang saya maksud dari
syarh/penjelasan ini yang mudah-mudahan diberkati, dan
bermanfaat. Aku memohon kepada Allah swt. agar syarh ini
bermanfaat di dunia dan akhirat dan bagi semua orang dari
saudara-sudara seimanku yang mencurahkan perhatian
terhadapnya”.

Mudah-mudahan kita semua dikumpulkan
bersama syekh Yusup dan semua yang dicintainya di surga
„iliyyin, dengan keagungan pemimpin kita yang mengawali dan
mengakhiri para utusan, tuan, nabi, dan pemimpin kita
Muhammad saw., semoga rahmat tercurahkan kepada beliau,
keluarga, sahabat, para nabi, dan para utusan.

Segala puji milik Allah yang mengurus alam. Semoga
salam sejahtera tercurahkan kepada hamba terpilih kepada
pimpinan kita Muhammad dan keluarganya, şalawat yang dapat
mengurai dan memecahkan semua masalah atas kehendak Tuhan
Penata alam semesta. Alhamdulillahi Rabbi al-alamin.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan